Thursday, August 13, 2026

the flowers

I wake up to the sound of him making wudu' in the bathroom. It's Thursday, half past four in the morning. I slowly bring myself out of the bed, switched on the bedroom lights and head to the working room. My desk is a big mess; the unmarked students' papers, some empty bottles and paints I was experimenting with last night to plan a school project, two laptops open- the school's and my personal one. There's also a Mushaf that has always been open for my daily hafazan recitation. Next to mine is his desk, neat and tidy. Some paperworks and his work notes scattered. His laptop is on, perhaps he woke up earlier and continued his work while I was still asleep. 

The sound of water in the bathroom stopped, I'm deducing he's done cleaning up and getting ready for qiyam. I headed to the kitchen and start clearing the dish drainer before washing some dishes left from last night after dinner. We were so sleepy and tired after Isha' prayer yesterday that we went straight to bed. 

He come out of our bedroom, greeting me and smiling, carrying the laundry basket and head to the yard. He starts opening the lid of the washing machine and load our dirty clothes inside. 

"Sandwich telur je okay tak harini breakfast? And saya tak sempat buat bekal lunch harini rasanya, takpe ke? Ingat nak sambung tanda paper sebelum pergi sekolah," I asked while washing the eggs, the lettuce, and preparing the bread. 

-"Eh okay je. Don't worry. We'll find something to eat at work. Awak pun jangan lupa makan," He replied while pouring laundry detergent into the designated part of the machine.

"Maybe I can make extra sandwich telur for bekal just in case awak or saya tak sempat cari makan masa lunch. Dinner insyaAllah saya masak, harini saya balik awal."

-"That sounds great. Thank you awak. Esok Jumaat kan, so I'll prepare our food as usual insyaAllah,"

"Thank you awak," I replied with a cute playful face and a mini love. He chuckles. 


He heads to our small living room as the washing machine starts operating, grabs the prayer mat and spread it on the carpet. I turn my gaze at him as he says the takbir, and queitly watching him pray. He's been working so hard this month especially, to reach our target amount specifically in a saving for pregnancy, and settling all the commitments. I can feel his exhaustion in his ruku' and i'tidal, and him releasing it to the ground as he kneel to sujud

Some working days are better than the others, some are harder. Regardless, we somehow always find time to be there for each other, our families, or close friends; at night, during the weekends, whenever they need us. And it's a huge blessing to have these loved ones reciprocating the same energy. We have come so far to reach this balance and stability in expectations, as well as taking care of ourselves in the midst of very packed working schedule. 

I finish preparing the sandwiches when he completed a few prayers and continue with zikir. I head back to the working room to settle my marking. It's nearly half past five. As I am thinking about school, slowly swiveling my chair, my eyes stop at the small whiteboard on the wall behind our working space is still filled with drawings and scribbles from last Sunday's discussion. I remember last week when I was not being very nice to him, and I felt hurt as well with some of his words. I ended up crying because I felt so guilty, and he was also overwhelmed with work and emotions.

"Ahad petang kosongkan jadual ya. We'll visit the garden and have a look at the flowers," he told me last week's Thursday during our dinner which was the third time we ordered on Grab that week, because none of us had the emotional or physical capacity to prepare food. 

We continued our week with very minimal interactions, until we 'visited the garden' during the weekend to clear our thoughts and communicate our feelings. 

'Visit the garden and have a look at the flowers' has always been our little way of saying we need to sit down and have the hard conversations. Heart to heart. With drawings, tables, diagrams, any form of communication that can help to analyse the problems, the causes of certain reactions and feelings, as well as solutions and improvement for the future. 

It often goes like this when one of us or both need it. 

"Can we visit the garden?"

"Do you have time to have a look at the flowers?"

"I'm not ready to check the flowers now. Maybe tomorow night?"

"I think some of the flowers are not doing well.  I need help"


The flashbacks and reveries in my mind stopped as I hear his voice from the living room.

-"Saya sahur ye. Lagi dua puluh minit lagi nak azan subuh." 

I walked out of our working room. 

"Ohhh aah la harini Khamis,"

-"Aah tu la baru teringat, macam nak puasa. Awak tak boleh puasa kan,"

"Aah. Alamak buat extra ni sandwich telur ingat nak suruh awak bawa untuk lunch sikit. Takpelah saya bawa ke sekolah je bagi teachers,"

-"Haa ok ok,"

The morning continues with us cleaning ourselves and getting ready for the day. We do a short tasmik session before I make a move to work as it's quarter past seven. He will normally leave for work at eight so he handles the remaining chores like throwing the trash, watering the plants, hanging the laundry.


So far, the garden has been maintained very well. Not perfect, not everything blooms all the time, but it's definitely thriving through different phases, and hopefully will continue to thrive until we eventually arrives in the eternal garden of Jannah, the best resting place ever.


......

وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّۭا

"dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku." (19:48)



0609AM
130826
Kota Damansara



Wednesday, July 29, 2026

seorang Al Amin

"This is quite promising ya, maybe you can observe how he communicates and respond to you. It's good that now you have someone modelling secure attachment"

"Bee.. sayangkan dia?"

-"I don't think sayang tu patut muncul sekarang" 

"Percaya diri awak untuk percayakan orang lain, Jieha,"

"Awak jangan sorang-sorang, saya ada,"

-"Awak tak pernah tanya pun tentang rutin mengajar saya. This is one of the biggest aspect that brings joy in my life"

"Maafkan saya, saya tak tahu. Terima kasih sebab beritahu supaya saya dapat lebih kenal awak dengan mendalam,"

-"Saya rasa kita habiskanlah July ni dan jumpa for one last time" 

"Saya masih nak teruskan taaruf dengan awak. Beri kita peluang, Jieha,"

-"This is very.. unfamiliar for me,"

.

Maafkan aku kita tak tahu bernafas tanpa semput dan sesak. Maafkan aku kita tak pandai melapangkan fikiran dan duduk tenang. Maafkan aku kita meneguk setiap 'khamr' di depan mata asal kita boleh lari dari menghadapi diri sendiri. Maafkan aku kita berdiam sepi berbulan lamanya. 

Maafkan aku, Jed. 

Fasa peralihan ini lebih sukar dari yang aku bayangkan. Aku tidak menemukan diriku dalam sebuah dunia yang sudah selesai derita berpanjangan.

Semoga kita terus tumbuh dan mampu melihat kehidupan dengan lensa yang baru. 


KD
290726
1:08PM

Tuesday, May 26, 2026

Arafah penyaksianku

Tuhanku, yang aku cintai. 

Aku datang kembali setelah lama menyepi. Maafkan aku tubuhku terlalu lemah untuk bangun bertemuMu di sepertiga malam, dek ubatan yang menjalar di setiap sarafku, menjalankan tugasnya terhadap biologi insani. Banyak yang ingin aku cerita dan adukan. Hanya senya aku kehilangan kata-kata dan keupayaan berbicara, namun bukan rasa cinta. 

Tuhanku, 

Terima kasih sudah mengasihiku tanpa henti. Menuntunku menjalani April dan Mei dengan keimanan dan ketaqwaan sedaya mampu. Ada hari-hari yang menyesakkan dada, aku sangat rindu untuk bertemu Engkau. Teresak-esak aku ya Allah merembeskan air mata, memproses fikiran dan rasa, dihujung katil tak lagi aku mampu berdiri. Hanya dalam perbaringan, selagi masih ada nafas. 

Tuhanku yang Maha Pemurah, 

Masih aku disini menyedut udara milikMu, membawa kereta yang Engkau pinjamkan, pulang ke rumahku yang tenang dan damai; hadiah dariMu, rebah dalam dakapan insan-insan yang penuh kasih dan cinta; manifestasi dan bukti kukuh kasih sayangMu yang tidak berpenghujung. 

Aku mencintaiMu ya Allah, lebih dari diriku sendiri. Lebih dari ibu dan ayahku, yang tak dapat mindaku mengerti taraf cintanya di dunia, mengingatkanku pada besarnya kasih sayangMu. Satu peratus yang Engkau pinjamkan sehingga terasa bahagia aku di samping keluarga, walau sakitku memakan fikiran dan jasad yang lemah. Aku mencintai NabiMu, yang telah berlelah payah untukku dan ummat sejagat. Membawa syiar Islam dari titik terendah, bersaksikan air mata dan darah. Sampaikan salam aku kepada kekasihMu ya Allah. Aku cuba yang terbaik untuk menyambung perjuangan ini, walaupun jauh dari sempurna. 

Tuhanku yang Maha Pengampun, 

Aku takut kehidupanku berakhir dengan kemaksiatan terhadapMu. Aku sangat takut ditimpa azabMu, kerana azab bermakna Engkau marah kepadaku sedangkan Engkau Tuhan yang Maha Pengampun dan Pengasih. Celakalah aku jika bertuhankan Tuhan sebaik Engkau malah masih mati dalam kekufuran dan diazab di akhirat. Aku berlindung denganMu ya Allah, dari syaitan yang direjam dan dilaknat. Aku berlindung dengan asma'Mu ya Allah, daripada kemarahanMu dan azabMu yang tak tertanggung. Aku berlindung denganMu ya Allah, daripada kejahatan diriku sendiri. Ampunilah dan padamlah ya Allah, setiap zarah dosa yang telah aku zalimi diri sendiri. 

Tuhanku yang Maha Suci dan Sempurna, 

Maafkan aku malu meminta, padahal ia adalah hal yang paling Engkau suka. Maafkan aku sudah berhenti sejenak tenggelam dalam kekeliruan fikrah, apakah sudah tiba masa meredhai dan melepaskan impian, ataupun masih perlu menggenggam dan mengharap. 

Ya Allah, di hari Arafah ini penyaksianku; Aku hanya mengharapkan keredhaanMu ya Allah dalam setiap hela nafasku. Sesak hatiku dengan sandiwara dunia, bahkan Engkaulah Tuhan tempat aku kembali dan mengadu. Takkan aku undur satu saat pun di masa silamku, kerana aku gembira dengan rasa kehambaan dan rasa bertuhan yang telah Engkau hadiahkan. 

Ya Allah, dengan asma'Mu dan segala keagunganMu aku memohon, 

Rezekikanlah aku cinta dari seorang suami yang Qawwam. Yang sekufu, menyayangi dan mencintai aku kerana cintanya dia kepada Rabbnya. Suami yang mampu menafkahi aku zahir dan batin, menyentuh aku atas dasar ibadah dan ketaatan terhadapMu, menginginkan aku selayaknya aku seorang isteri. Yang lemah lembut terhadapku dalam memuji yang elok dan menegur yang kurang. Lelaki yang keluarganya pengasih seperti keluargaku, agar dapat kami bersilaturrahim kerana Engkau. Dia memahami tanggungjawab dakwahku dan membantu aku mendukungnya. Dia memimpin rumahtangga dengan ketenangan dan tidak memalapkan cahaya jiwaku. Kehadirannya menjadikan aku semakin cintakan ibadah dan amal soleh, selayaknya dia menjadi seorang ayah kepada anak-anakku kelak. Dia menjadikan Al-Quran sebagai tunggak pimpinan dan solat sebagai kekuatan. 

Rezekikanlah aku, ya Allah, kesabaran seluas Zakariyya menunggu anaknya Yahya, keredhaan sekuat Yaaqub merintih dan merindu Yusuf, dalam percintaan dan maratib amal kedua, membina keluarga Muslim yang Engkau redhai. Rezekikanlah aku, ya Allah, kekuatan dakwah sehebat Nuh dan Ibrahim serta para anbiya' lainnya, cintakan taubat seperti Yunus tika kecewa. 

Rahmatilah sisa kehidupanku ya Allah. 

Hidupkanlah aku dalam iman jika kehidupan ini lebih baik buatku, dan matikanlah aku dalam iman jika kematian lebih baik untukku. 

Terimalah pengorbanan jiwa dan ragaku, serta ibadah korbanku. Ampunilah dosa kedua ibu dan bapaku, kasihanilah mereka sepertimana mereka mengasihi aku sewaktu kecilku. Rahmatilah kehidupan mereka, dan izinkanlah kami bertemu di syurga tanpa sebarang dendam dan benci yang tersisa. Ampunilah dosa kakak-kakakku dan abangku. Rahmatilah mereka di dunia dan akhirat, jagalah setiap langkah mereka menapak ke usia pertengahan, izinkan mereka merasai indahnya nikmat beribadah kepadaMu. 

Ampunilah dosa sahabat-sahabatku yang menyokong jatuh bangunku selama ini, kurniakanlah aafiyah dalam keluarga kecil mereka dan luaskanlah rezeki mereka. Makbulkanlah doa mereka mengikut ilmuMu yang tidak berpenghujung. 

Sayangi dan kasihilah anak-anak didikku ya Allah. Mereka masih kecil. Mereka tidak dibesarkan oleh ibu dan ayah yang memahami agama. Ampunilah keluarga-keluarga mereka, bimbinglah mereka menuju cahaya dan redhaMu. Rezekikanlah mereka nikmat iman dan Islam, serta ibadah yang ikhlas kepadaMu. Aku sangat kasih kepada anak-anak didikku ya Allah, dan aku sangat ingin mereka menjadi hambaMu yang setia dan bersyukur. Lembutkanlah hati-hati mereka agar menjaga solat, menutup aurat, dan memperbaiki bacaan Al-Quran seiring usia remaja mereka menuju dewasa kelak. Jagalah mereka ya Allah. Rezekikanlah mereka cintaMu yang tidak berpenghujung. 

Terima kasih Tuhan, untuk hadiah Arafah yang mulia.


260526,
9 Zulhijjah 1447H
18:13PM
Kota Damansara. 

Friday, March 27, 2026

فيها خير

I guess the only way of not letting this happen again in our life,
Is making peace with the Qadr that this one too might not happen again, and that's okay.

قدر الله وما شاء فعل
 و كل فيها خير لا نعلم


270326
Kota Damansara 



Sunday, March 22, 2026

Ramadan yang penuh cinta

Aku telah berdoa dan Tuhanku telah pun menjawabnya. Walau bukan dengan kisah yang aku harapkan, bahkan lebih baik lagi dengan kasih sayangNya yang tak berpenghujung. Aku dibuang oleh manusia tetapi Tuhan masih meletakkan aku di tempat tertinggi di sisiNya- merendahkan diriku dalam sujud, tasbih dan tahmid. 

Tuhanku mengizinkan aku untuk redha pada tamparan pertama. 
Dia memberikan; الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى, seperti yang aku rayu.

Sakit dan perih sekali tatkala aku menceritakan lukaku, walaupun bukan harapanku untuk dirawat setidaknya ada yang melihat dan bersimpati, bahkan manusia mencederakanku di tempat yang sama.

They know exactly where you are hurting, and they hit you on the exact same spot. 
But Alhamdulillah for everything that doesn't work out.


Allah memegang hati aku melalui takdirNya yang telah disusun, dari malam kelmarin, tiga bulan penantian, enam bulan keberanianku yang bercampur kekhilafan, sejak Ramadan tahun lalu. Allah memegang aku tanpa lepas, memastikan aku selamat dan sedia untuk segala kemungkinan. 

Allah telah bersabar dengan ketidaksabaranku saban tahun, dan tidak pernah menghukumku kerananya. 

Ramadan tahun ini penuh dengan cinta. Tuhan mengizinkan aku mengajak komuniti sekolah berkumpul membaca dan mendengar kalamNya lewat iftar jama'ie, lantas kita merebahkan diri bersujud bersama dalam satu saf. Bahkan mengajar anak-anak muridku ayat suci, dan memberi peluang salah seorang melaungkan azan di sekolah. Tuhan mengizinkan aku sujud di malam hari, menangis, mengadu dan bermanja. Tuhan mendatangkan peluang-peluang dakwah, kebaikan, dan sedekah, agar aku menjalankannya dengan ikhlas, sehingga aku merasakan bahwa Dia berkehendak menghapuskan sayyi'at ku dengan hasanat dariNya. 

Aku sangat mencintai Tuhanku, yang membuka jalan-jalan untuk aku ke syurga tatkala aku melalui lorong-lorong yang melemparkan diriku ke neraka. 
Aku sungguh mencintai Tuhanku, yang telah membiaskan sepenuh cintaNya di sekeliling aku.
Dari wajah ummi dan abuyaku, kakak-kakak dan abangku, sahabat-sahabatku, makcikku, para akhawat, rakan-rakan sekerja, ketuaku, anak-anak muridku. Dari setiap sudut rumahku yang selesa, dan kenderaanku yang tidak pernah bermasalah, dari iman, islam dan ihsan yang Engkau berikan.

Aku mencintaiMu ya Allah, yang telah memberikan aku aafiyah.

Hanya yang tiada adalah wajah seorang suami dan anak-anak, serta kehendakku untuk bermaksiat. Inilah ujian terbesar dan kejahatan dunia yang sangat aku takuti, dan aku tahu aku tak akan memahami penantian ini sampai bila-bila.

Saksikanlah ya Allah, bahawa aku redha. Aku melepaskan harapanku. Aku tiada sesiapa kecuali Engkau yang tidak pernah menghukumku. Aku akan terus berdoa dan memupuk cinta kepadaMu, tetapi aku faham aku tiada hak untuk menuntut apa-apa hal pun menurut kehendakku.

Seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milikMu ya Allah. 
Dan aku redha Engkau sebagai Tuhanku. 
Terima kasih ya Allah untuk segala kegembiraan mahupun kesakitan. 




1143PM
220326
Dengkil



Tuesday, February 17, 2026

it doesn't matter jed

Listen to me, IT DOESN'T MATTER. It doesn't matter if anyone likes you or not. Stop locking your eyes on this problem fgs. I know you are overwhelmed, but it really does not matter, Jed. It doesn't even matter if he wants to marry you or not. Who cares. He's not the answer. No man is. 

Listen to me. NO WORLDLY DESIRE IS WORTH THE GARDEN OF JANNAH.

I know you are hurt, in fact, very hurt from everything that has happened in your life. But girl, we are doing good with Allah's will. Dia tak pernah tak protect kita. Please jangan menzalimi diri kita dah.

I know you long for a male figure in your life who will finally make you feel safe and you can let your guard down. I know the armour is heavy, so heavy it shivers your knees you can barely stand. And the attack has been very severe. But this is your test, that Allah has specifically designed for you, moulded to your capacity, and assisted for you to pass. 

And passing doesn't mean you will finally get what you always wanted in this world. Passing the test could mean you finally die, meeting Him in a condition that your desire was never destined to be fulfilled but you have tried your best to avoid major sins. Even if you did fall into them, you never gave up returning to Him troughout your life. 

Zalika hual fadhlul kaabir.

I am genuinely scared ya Allah. Please help me. Tolonglah aku. Peganglah aku ya Allah. 

They are attacking from all sides, and I am faqiir. Very needy of You. I could not do this alone. I need Your backup. I am very weak, sangat cacat cela cinta aku pada Engkau Ya Allah. I can feel that they are sending over their best corporals to whisper to me and it is full blown now that Ramadan is coming
Compang camping aku datang merayu pada Engkau Tuhan Sekalian Alam, ya Allah. Yang tidak pernah sekali pun tidak mengasihi aku. 


This could be lifelong, jed. We never know. Brace yourself and get up. They are destroying your bridge to get to that Jannah and you just gonna watch? You not gonna run to Allah for help? 



Put that freakin armour back on, the war is not over. 


955PM
170226
Dengkil


Hidup ini adalah keyakinan dan PERJUANGAN.. dan PERJUANGAN mukmin yg sejati tidak akan berhenti kecuali kedua tapak kakinya, TELAH MENGINJAK KE PINTU SYURGA...

-Imam Ahmad ibn Hanbal-